February 15, 2017

The HOOQster Journal

This is my Journal...

Jumat | 8 April 2016 | 17.26 WIB : “Terjebak Di Bus”
Sore itu, pada hari Jumat yang gerah di Semanggi, Jakarta Selatan, saya terjebak diantara ribuan mobil-mobil yang ber-Mannequin Challange di Jalan Gatot Soebroto. Ini bukan karena ingin ikut trend yang sempat kekinian di tahun 2016 itu, bukan! Melainkan karena mobil-mobil itu, termasuk bus yang saya tumpangi, sedang terjebak macet.

Sejak pulang dari kantor setelah tumpukan pekerjaan yang begitu menyita waktu, membuat saya lupa bahwa waktu sudah memasuki pukul 17.00 WIB dan seluruh orang-orang kantor mulai bersiap-siap pulang. Tak ingin ketinggalan, saya pun ikut bersiap-siap untuk pulang. Saya mematikan laptop, merapihkan meja kerja, dan ikut pergi meninggalkan ruang kantor yang berangsur-angsur sepi. Lalu setelah menunggu cukup lama di pinggir jalan, saya manaiki bus yang akan membawa saya ke Bekasi. Menyadari bahwa saya akan terjebak macet untuk waktu yang lama, sesaat setelah masuk ke Tol Dalam Kota dan bus berjalan merayap.

Berdiri di bus yang jalan merayap membuat saya dilanda rasa bosan. Mencoba untuk killing time, dengan buka-buka media sosial, namun sepertinya hal itu kurang berhasil. Udah mau muntah rasanya scrolling layar untuk melihat update-update terbaru di media sosial, hingga postingan-postingan hari kemaren saya lihat kembali karena sudah kehabisan update terbaru. Sampai pada akhirnya saya menghabiskan waktu melamun sambil mendengarkan musik, berharap ada hal yang bisa membuat saya tidak diliputi rasa bosan terjebak macet di bus seperti sekarang ini.

Sabtu | 14 Mei 2016 | 15.35 WIB : “Bersama tapi Tidak Seterusnya”
Saya berkumpul dengan teman-teman di salah satu rumah teman saya. Setelah dari senin sampai jumat berusaha menjadi manusia dengan etos kerja tinggi, maka hari sabtu adalah waktu bagi saya untuk bersosialisasi dengan teman-teman saya. Mencoba untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, maka sejak pagi saya dan teman-teman sudah berjanji untuk berkumpul di rumah salah satu teman saya untuk saling ngobrol dan seru-seruan.

Setibanya saya di rumah teman saya, tampaknya semua sudah berkumpul. Kami kemudian saling bercerita tentang hari-hari kami sebelumnya. Berbagai cerita seru di tempat kerja dan hal lainnya. Sampai pada saat masing-masing mulai kehabisan bahan obrolan dan secara perlahan mulai sibuk dengan ponsel masing-masing. Suasana cair dan keceriaan yang tadi saya rasakan secara perlahan sirna, digantikan kebisuan dan kesibukan di gadget masing-masing. Bersama tapi tidak seterusnya, karena rasa bosan dan mati gaya memaksa kami untuk membuka ponsel dan mencari kesibukan lain. Sayang sekali.

Senin | 27 Juni 2016 | 19.40 WIB : “Mati Lampu yang Membunuh”
Senin malam. Saya sendirian di dalam kamar. Menikmati makan malam sambil menyaksikan salah satu film favorit saya yang sedang diputar di salah satu stasiun TV, “Ada Apa Dengan Cinta?”. Rasanya sangat nikmat sekali menikmati istirahat pulang kerja sambil ditemani oleh makan malam dan film kesukaan yang dulu pernah sukses di masa saya SMP. Sambil duduk di sofa, dan menyantap makan malam sesendok demi sesendok, saya menyaksikan Rangga yang menatap sinis Cinta ketika hendak diwawancara di perpustakaan sekolah dan kemudian… JLEB! Mati lampu. Saya terdiam untuk mulai menerima kenyataan bahwa istirahat malam saya terganggu dengan mati lampu. Dan yang lebih menyebalkannya lagi, Ada Apa dengan Cinta-nya belum selesai. Padahal lagi seru-serunya. Lingkungan di tempat tinggal saya memang cukup sering mati lampu. Entah karena gangguan listrik atau apa, yang pasti ini sangat menyebalkan. Saya melanjutkan makan malam saya dengan muka cemberut. Dalam kegelapan... yang membunuh kebahagiaan.

Selasa | 19 Juli 2016 | 18.05 WIB : “Menunggu Commuter Line yang Membosankan”
Memang tidak ada transportasi dalam kota yang lebih cepat dan lebih efektif dibanding naik Commuter Line. Dengan menaiki moda transportasi ini, kita akan terbebas dari kemacetan jalan di Jakarta yang terkadang bikin emosi. Namun ada kalanya masalah persinyalan atau pantograf suka terjadi dan membuat perjalanan kereta terganggu. Seperti yang saya rasakan sekarang ini. Berdiri lebih dari 90 menit menunggu kereta yang terhambat karena adanya gangguan persinyalan. Jikalau 90 menit ini saya habiskan di bioskop, pastinya saya sudah selesai menyaksikan satu buah film utuh. Namun yang sekarang saya alami adalah berdiri bersama ratusan penumpang lain menunggu kereta tercinta yang tidak kunjung datang, dengan wajah lelah dan bosan. Andai saja saya bisa menggunakan 90 menit waktu menunggu saya dengan hiburan yang menyenangkan, pastinya akan lebih baik dan tidak membosankan.

Menunggu Memang Membosankan
Jika dikira-kira, apa sih kegiatan yang paling membosankan? Sebenarnya banyak, namun salah satu yang paling populer diantaranya adalah kegiatan menunggu. Seperti kejaidan-kejadian yang saya alami diatas. Menunggu Commuter Line yang tidak kunjung datang. Atau menunggu macet di tengah jalanan kota yang super melelahkan. Atau bisa juga menunggu makanan datang saat kita kelaparan, dan masih banyak lagi.

Saya sempat meluangkan waktu untuk bertanya kepada teman-teman saya hal apa yang paling membosankan dilakukan. Masing-masing dari mereka memberikan jawaban yang menarik, seperti yang saya rangkum dalam video di bawah ini.


Dari testimoni teman-teman saya tersebut, bisa kita lihat bahwa ada banyak hal yang bisa memunculkan rasa bosan. Seperti nungguin dipanggil dokter, nungguin orang, nungguin makanan dateng, nunggu kendaraan dan masih banyak lagi. Untuk mengisi waktu menunggu mereka, biasanya mereka bermain hape atau melakukan kegiatan lain. Namun apakah itu sudah cukup? Atau sebenarnya kita membutuhkan sesuatu yang bisa membuat waktu menunggu menjadi menyenangkan? Untuk itulah, saya akhirnya berkenalan dengan HOOQ. Penyelamat hiburan saya.


Rabu | 7 Desember 2016 | 13.11 WIB : “Berkenalan dengan HOOQ”
Bermula dari obrolan dengan teman, dimana dia memiliki hobi nonton film dan berbagai serial menarik. Namun yang menjadi bagian serunya adalah; dia bisa menikmati setiap tontonan favoritnya dimana saja dan kapan saja. Seolah tidak ada yang membatasi dia untuk menikmati setiap tayangan favorit yang dia inginkan. Dan semua itu bisa terjadi berkat HOOQ Time. Anytime!

Mendengar penuturannya membuat saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut apa itu HOOQ. Apalagi saya juga merupakan pecinta film yang selalu menghabiskan waktu luang saya untuk menikmati berbagai film baru dan seru. Karena pada dasarnya selain memang suka nonton film, saya juga sering memberikan review dari film-film yang sudah saya tonton. Tak heran jika banyak teman saya yang selalu menanyakan review saya dulu sebelum menonton sebuah film. Nah, dengan adanya HOOQ ini, hobi nonton saya kini bisa saya nikmati bahwa disaat-saat paling membosankan sekalipun. Karena HOOQ membuat saya bisa menonton berbagai film dan acara menarik Anytime! Anywhere! Cool, isn’t it?

 
HOOQ sendiri mulai berdiri pada tahun 2005, dengan Krishnan Rajagopalan selaku Founder dan CCO dan Peter Bithos sebagai CEO. Perusahaan ini merupakan hasil joint-venture antara Sony Pictures Entertaiment, Warner Bros dan Singtel. Dengan misi membawa lebih dari 35.000 jam tayangan berkualitas dari lokal, regional bahkan Hollywood, HOOQ hadir sebagai salah satu inovasi hiburan yang bisa dinikmati kapan saja dan di mana saja. Sesuai dengan taglinenya: "HOOQ Time. Anytime". HOOQ mencoba mengisi setiap waktu-waktu membosankan, saat-saat luang, momen-momen senggang ditempat manapun dan di saat kapanpun dan dengan gadget apapun. Entah laptop, tablet, bahkan smartphone bisa digunakan untuk menikmati berbagai tayangan berkualitas HOOQ.

Kesuksesan HOOQ telah membuat aplikasi melebarkan wilayah operasinya di lima negara, diantaranya adalah Indonesia, Singapore, Filipina, Thailand dan India. Tidak heran jika Global Mobile Awards 2016 (GLOMO) menobatkan HOOQ sebagai Best Mobile App untuk kategori media, film, tv dan video.

Untuk kamu yang ingin mengetahui lebih jelas mengenai apa itu HOOQ time. Anytime, kamu bisa menyaksikan dulu video menarik yang dibintangi oleh Nicholas Saputra di bawah ini.


Bagaimana Cara Menikmati HOOQ?
GAMPANG! Adalah satu kata yang bisa saya ucapkan ketika berkenalan dengan HOOQ. Kenapa saya bilang gampang, karena saya bisa dengan mudah menggunakan HOOQ! Seperti saya yang men-download HOOQ di tablet android saya, supaya saya bisa menyaksikan film di layar yang lebih lebar. Langkah-langkah mudah menikmati HOOQ Time Anytime adalah sebagai berikut:
  1. Buka Playstore di ponsel ataupun tablet android kamu.
  2. Lalu masukan keyword : HOOQ pada kolom pencarian.
  3. Dalam sekejap icon aplikasi HOOQ akan muncul untuk kamu klik.
  4. Klik icon HOOQ dan klik “Install”, lalu biarkan sistem mendownload dan menginstal HOOQ
  5. Setelah selesai, kamu buka aplikasi HOOQ dan lakukan pedaftaran.
  6. Pendaftaran bisa menggunakan email atau pun nomor telepon.
  7. Setelah itu, bukan inbox email kamu, dan lakukan verifikasi akun kamu melalui email yang dikirim ke inbox email kamu.
  8. Setelah selesai dan semuanya sukses, kamu sudah bisa memasuki pintu gerbang dunia hiburan tanpa batas.
Simple banget kan!

Pilihan Paket Berlangganan HOOQ yang Beragam


Untuk menikmati setiap tayangan hiburan di HOOQ, pastinya kamu harus berlangganan paket, dan disini HOOQ memberikan pilihan paket berlangganan yang beragam. Berbagai pilihan paket berlangganan HOOQ adalah sebagai berikut:
  • 7 Days : Unlimited movies and TV Shows yang bisa kamu nikmati selama 7 hari berturut-turut dengan harga yang sangat murah, yaitu IDR 18.700,-
  • 30 Days : Jika kamu ingin menikmati waktu yang lebih lama, kamu bisa memilih paket 30 Days atau sebulan. Sehingga kamu bisa memiliki waktu lebih banyak dan berjelajah tayangan-tayangan seru di HOOQ dengan hanya perlu merogoh kocek seharga IDR 49.500,-
  • 90 Days : Untuk yang ingin mulai berlangganan HOOQ, kamu bisa memilih paket 3 bulan dengan harga yang lebih murah, yaitu hanya dengan IDR 124.000,-
  • 180 Days : Jika ingin menikmati HOOQ dalam jangka waktu yang lebih lama, kamu bisa memilih paket 180 hari dengan biaya hanya IDR 244.000,- saja.
  • 360 Days : Ini adalah paket maksimal dengan biaya yang jika dibagi rata setiap bulan jauh lebih murah. Untuk layanan unlimited movies and TV Shows selama 1 tahun penuh, kamu hanya perlu mengeluarkan uang sebesar IDR 440.000. Kurang dari setengah juta kamu sudah menikmati puluhan ribu koleksi film selama 1 tahun sepuasnya!

Kelebihan-Kelebihan HOOQ
Jika melihat dari penjelasan diatas, saya jadi bisa menyebutkan apa-apa saja kelebihan yang dimiliki HOOQ sebagai aplikasi yang bisa menolong semua pihak dari wabah kebosanan. Dan kelebihan-kelebihannya adalah sebagai berikut:


Oke, sekarang setelah saya berkenal dan berlangganan HOOQ. Maka kini hari-hari saya pun berubah menjadi lebih menyenangkan. Seperti kelanjutan jurnal saya dibawah ini.
Senin | 19 Desember 2016 | 17.07 WIB : “Bahagia Terjebak di Bus”
Sore itu jalanan di Jakarta masih sama macetnya. Karena memang seperti tidak ada perubahan yang berarti selama bertahun-tahun saya menggunakan angkutan umum. Namun justru perubahan yang terjadi adalah pada diri saya. Ketika waktu pulang kantor tiba, seperti biasa saya bersiap-siap untuk meninggalkan kantor dan pulang. Setelah mematikan komputer, saya bergerak bersama rekan-rekan kerja untuk meninggalkan kantor tercinta. 

Setelah sekitar 15 menit berdiri di pinggir Jalan Jendral Sudirman yang padat itu, akhirnya saya mendapatkan bus saya; Patas AC. 52 Jurusan Tanah Abang - Bekasi Timur. Ketika saya masuk ke dalam, sudah saya duga bahwa seluruh kursi sudah terisi dan sudah ada beberapa orang juga yang berdiri. Saya pun berjalan menuju tengah bus untuk berdiri.


Perjalanan pulang tetap ditemani oleh macet. Namun kali ini saya tidak memedulikannya. Karena saya bisa menikmati film Hancock-nya Will Smith yang menarik saya dari kemacetan Jalan Gatot Soebroto ke dunia penuh aksi Hancock yang seru. Lalu ketika film tersebut selesai, saya menyadari bahwa bus yang saya tumpangi sudah keluar dari Pintu Tol Bekasi Timur. Tanpa sadar saya sudah menghabiskan waktu berdiri lebih dari 90 menit, tanpa sedikitpun merasa bosan. Ini semua berkat HOOQ tercinta, dan tentu saja, Hancock, hehehe...

Sabtu | 31 Desember 2016 | 21.02 WIB : “Bersama dan Seterusnya”
Menjelang tahun baru 2017, seperti biasa saya berkumpul bersama teman-teman saya untuk merayakan pergantian tahun baru. Kami berkumpul di salah satu rumah teman saya untuk bakar-bakar jagung, sosis dengan berbagai makanan ringan lainnya. Setelah itu mengobrol bersama di ruang tamu sambil menikmati hidangan yang telah tersaji.


Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam kami memutuskan untuk menonton film sambil menunggu waktu tahun baru tiba. Film yang kami pilih, adalah film bertema ringan yang bisa memberikan tawa dan keceriaan, dan oleh karena itu pilihan jatuh pada film The Proposal-nya Sandra Bullock dan Ryan Renolds. Langsung saja saya menyalakan HOOQ saya dan mencari film tersebut untuk ditonton bersama-sama. Kami menyaksikan film tersebut sambil sesekali tertawa akan berbagai kelucuan dan canda yang terjadi di film tersebut. Acara kumpul bersama kali ini benar-benar terasa kebersamaannya dan terasa sampai seterusnya.

Rabu | 11 Januari 2017 | 20.30 WIB : “Mati Lampu yang Menghidupkan”
Rabu malam saya isi dengan menyaksikan maraton siaran ulang film The Mentalist di salah satu channel tv kabel. Karena saya juga kebetulan menyukai serial ini, jadi begitu ada tayangan ulangnya saya tetap saja menyaksikannya dengan antusias. Sambil menikmati makan malam, saya menikmati aksi para tokoh dalam setiap misi mereka sampai tiba-tiba… jleb! Mati lampu lagi. Menyebalkan rasanya ketika kamu sedang berada di tengah keseruan menyaksikan acara kesayangan dan padamnya listrik merampas segalanya. Seolah kebahagiaan kamu direnggut begitu saja.

Untung saja saya masih bisa memanfaatkan HOOQ di tablet saya untuk melanjutkan kembali serial The Mentalist yang tertunda gara-gara mati lampu ini. Kamar boleh mati dalam kegelapan, namun HOOQ tetap membuat saya hidup dengan streaming tayangannya yang tanpa henti dan kendala. Keren!

Jumat | 3 Februari 2017 | 19.07 WIB : “Menunggu Commuter Line yang Sulit Menahan Tawa”
Tidak ada yang bisa mengalahkan macetnya jalan-jalan di Jakarta, sibuknya transportasi umum di Jakarta dan membeludaknya para penumpang angkutan umum pada hari jumat di jam pulang kantor. Mengingat dua hari berikutnya adalah akhir pekan, sudah pasti banyak para pekerja kantoran yang sudah siap dengan tujuannya masing-masing. Ada yang pergi berkumpul dengan teman-temannya, ada yang langsung pulang ke rumah masing-masing dan masih banyak lagi.

Salah satu dari sekian banyak orang yang memutuskan untuk langsung pulang adalah saya, dimana pada pukul 7 malam ini, saya sudah berdiri ganteng di peron Stasiun Manggarai untuk menunggu Commuter Line menuju Bekasi. Menurut pengumuman dari stasiun, kereta ke Bekasi saat ini posisinya masih berada di stasiun Mangga Besar menuju ke Stasiun Kota terlebih dahulu sebelum kembali menuju Bekasi. Saya berdiri bersama ratusan calon penumpang lain yang menunggu di peron jalur 4.



Sambil menunggu, saya menikmati film klasik Indonesia berjudul “Benyamin Tukang Ngibul”. Film komedi yang dimainkan oleh Almarhum Benyamin S ini benar-benar membuat waktu menunggu Commuter Line saya dipenuhi dengan tawa riang akibat tingkah lucu Benyamin yang tukang ngibul. Saya yang sesekali tertawa ketika menonton film via HOOQ sempat menarik perhatian dari orang-orang disekitar saya, namun saya tidak mempedulikannya. Bahkan saya membiarkan mereka ikut menonton jika mereka menginginkannya.

Tidak ada salahnya membagi kebahagiaan bersama orang-orang yang walaupun tidak kita kenal. Dan bersama HOOQ saya bisa berbagi kebahagiaan dengan tayangan lucu yang menghibur.

Penutup
Perkembangan zaman memang membawa cukup banyak perubahan pada diri kita. Mulai dari perubahan yang positif dan sampai ada pula perubahan yang kearah merugikan. Namun ketika saya ditanya apa contoh perkembangan teknologi yang membawa perubahan positif, maka HOOQ menjadi salah satu contoh nyata yang bisa saya sebutkan. HOOQ telah membuat setiap kebosanan saya sirna, dengan berbagai tayangan menariknya. Setiap waktu menunggu atau saat-saat membosankan jadi tidak lagi terasa memberatkan. HOOQ telah membawa perubahan pada diri saya dalam mengisi waktu menunggu yang membosankan. Membuat waktu menunggu tidak pernah lagi menjadi waktu yang saya benci. Membuat hobi menonton saya tetap terakomodasi kapanpun dimanapun. Ini semua karena HOOQ Time. Anytime.





regards,

February 10, 2017

Movie Review - John Wick Chapter 2


img:slashfilm.com
Sebenarnya gua nggak menyangka bahwa John Wick bakalan ada sequelnya. Mengingat sebenarnya film ini tergolong biasa saja, walaupun ada sedikit nilai keunikan pada film ini. Namun apa daya, ternyata sang Sutradara Chad Stahelski hadir dengan kelanjutan dari si Mantan Pembunuh Bayaran ini. Dengan cerita yang lebih lebar dari sebelumnya.

Bercerita mengenai John Wick ingin kembali melanjutkan hidup damainya setelah sempat terganggu pada film yang pertama. Namun nyatanya masalah lain menghampirinya dan memaksanya untuk kembali ke kehidupannya yang lama. Hanya saja dengan tujuan, setelah tugasnya sebagai pembunuh bayaran sudah berakhir, maka dirinya akan memburu orang yang memaksa dirinya untuk kembali ke kehidupan lamanya dan merampas kedamaiannya.

Hal menarik yang membuat gua menyukai film ini adalah, keunikan kecil yang disajikan pada film pertama, dieksplorasi lebih luas pada film yang kedua ini. Dimana pada film ini dicoba lebih dijabarkan mengenai ekosistem dan sistem kerja dari komunitas para pembunuh. Salah satunya adalah terdapat hotel khusus para pembunuh bayaran, dimana pada wilayah hotel itu, tidak boleh ada aktivitas bisnis (bunuh-membunuh) yang terjadi, jika tidak mau dikelurkan dari komunitas. Eksplorasi sistem kerja komunitas pembunuh pembayaran yang sistematis inilah yang menjadi salah satu nilai keunikan dari film ini.

Tidak hanya itu, nilai menarik lain dari film ini adalah adegan pertarungan dan tembak-tembakannya yang intens dan cukup brutal. Walaupun disatu sisi tampak tidak memungkinkan, namun disisi lain terdapat keseruan diberikan dari adegan-adegan tersebut. Mengingatkan kita akan betapa mustahilnya namun serunya adegan aksi pada film Wanted. Sementara adegan perkelahiannya yang tampak real secara perlahan membawa gua teringat akan film The Raid, namun disini adegan pertarungannya dibuat sedikit lebih realistis.

Dan sepertinya sang sutradara secara jelas mengindikasikan bahwa film ini akan berlanjut ke seri ketiga. Alur cerita pada film ini dibuat seolah-olah bahwa segala belum berakhir, bahkan cenderung menjadi semakin buruk. Sebuah formula yang bagus, mengingat film keduanya sendiri bisa dibilang seru untuk ditonton.


Score : 7,5 / 10
Note : Film ini hanya tayang di Jaringan 21/XXI


regards,

January 30, 2017

Movie Review - Resident Evil The Final Chapter

img:evilcomeshome.com
Seri terakhir dari Resident Evil ini berkisah mengenai perjalanan Alice (Milla Jovovic) yang harus kembali ke The Hive untuk menyelamatkan satu-satunya obat yang bisa menghapus wabah Zombie diseluruh muka bumi. Serta penjelasan mengenai asal muasal mengapa T-Virus bisa menjadi epidemi mematikan di seluruh dunia.

Bagi gua seri terakhir ini bisa dibilang merupakan sebuah kekecewaan terakhir yang gua harap akan menjadi kekecewaan yang benar-benar terakhir. Film ini hanya fokus untuk membuat penonton terkaget-kaget tanpa memperhatikan kualitas plot film ini. Untung saja penjelasan soal asal muasal virus ini yang rupanya cukup twist bisa memberikan sedikit rasa segar, sebelum dirundung berbagai kebodohan berikutnya.



Score : 4 / 10




regards,

January 23, 2017

Movie Review - Istirahatlah Kata-Kata

img:jurnalfootage.net
Film ini menceritakan masa-masa pelarian Wiji Thukul pada masa-masa orde baru, karena menganut paham yang berlawanan dengan pemerintah. Yes, film ini hanya bercerita mengenai masa-masa pelarian dia saja. Udah itu aja, nggak ada yang lain.

Jika gua telaah, sebenarnya film ini memiliki plot yang sangat dangkal dan singkat sekali. Mengenai masa-masa pelarian seorang aktivis pejuang demokrasi. Dan fokus utama dari film ini ya si Wiji Thukul itu sendiri. Dan sepanjang film yang dibahasa mengenai kehidupan si Wiji Thukul sebagai pelarian. Puisi-puisinya hanya berupa tempelan sebagai instrumen pengisi adegan-adegan tak bermakna yang dibuat hanya untuk manjang-manjangin durasi. Apalagi film ini begitu sepi dan cukup membosankan sehingga beresiko membuat penonton malah memilih melakukan akitivitas lain seperti ngobrol atau main hape. Padahal kalo baca sinopsis film ini, kesannya film ini akan sarat adegan-adegan menarik.

Gua sebenarnya ingin menyukai film ini, jika saja film ini dibuat lebih dalam dan lebih padat. Namun yang terjadi film ini malah menjadi film yang dangkal yang sarat akan plot model "Sebab-Akibat", dan cuma fokus pada kehidupan si Wiji saja dan dilihat dari sisi pribadinya saja. Mungkin penonton yang tahu dengan baik latar belakang Wiji Thukul ini mungkin bisa menikmati film ini karena sudah memiliki fondasi yang baik. Sementara penonton awam yang sama sekali tidak tahu siapa Wiji Thukul ini, sepertinya akan berakhir pada kebutaan dan penyesalan akan 90 menit yang sia-sia.



Score : 3.5 / 10



regards,

January 20, 2017

Movie Review - XXX Return of Xander Cage

img:collider.com
Bercerita mengenai kembalinya Xander Cage menjadi agen khusus dengan misi menyelamatkan sebuah alat yang bisa menjatuhkan satelit-satelit di ruang angkasa ke bumi. Sepanjang film kita akan disuguhkan adegan-adegan action yang absurd, cewek-cewek berbikini, adegan-adegan kurang penting dan adegan action yang mudah dilupakan.

Entah apa motivitasi film ini dibuat selain hanya untuk mendompleng popularitas Vin Diesel yang sedang naik berkat rentetan film Fast & Furious. Cerita pada film ini biasa aja, tidak ada yang menarik. Adegan actionya pun juga biasa aja, tidak ada yang menarik, bahkan beberapa terkesan konyol, twistnya-pun sudah bisa tertebak gara2 muka aktris yang memerankannya pun membuat penonton berpikir bahwa dia sebenarnya orang yang jahat.

Secara keseluruhan film ini tergolong mengecewakan. Tidak heran film ini di tayangkan pada awal tahun, supaya tidak terlalu babak belur dilibas sama film-film bagus lainnya. Namun untuk seru-seruan, yaaaa film ini gak papa sih.



Score : 4 / 10



regards,

January 17, 2017

Movie Review - Patriots Day

img:slashfilm.com
Sebenarnya waktu mau nonton film ini, gua gak tahu bahwa film ini ternyata diangkat dari kisah nyata tragedi bom di Boston. Baru ketika mulai memasuki adegan dengan setting jalanan tempat akan diselenggarakannya acara maraton, baru gua sadar bahwa film ini diangkat dari tragedi memilukan itu.

Berkisah mengenai orang-orang yang secara tidak langsung berkaitan dalam tragedi bom pada acara lari maraton di Boston. Ada Tommy Saunders (Mark Walhberg) yang merupakan seorang sersan yang berada di lokasi kejadian ketika bom meledak. Lalu ada Ed Davis (John Goodman) yang bersumpah ingin sesegera mungkin menemukan pelaku dari pengeboman ini, ada Sersan Jeffrey Pugliese (J.K. Simmons) yang menjadi salah satu orang penting pada saat penangkapan salah satu pelaku bom yang diwarnai dengan adegan tembak-tembakan yang membabi-buta, serta beberapa tokoh lain yang secara tidak langsung berkaitan dengan peristiwa ini. Kronologis film ini dimulai dari persiapan acara maraton dan berakhir ketika para pelaku pengeboman tertangkap.

Peter Berg sebagai sang sutradara sepertinya berhasil menvisualisasi ulang peristiwa bom Boston ini ke dalam sebuah film dengan durasi 130 menit. Sepanjang film kita akan disuguhkan dengan adegan-adegan yang intens, berkat editing filmnya yang terbilang oke. Walaupun pada satu adegan anda mungkin akan menyadari bahwa film ini terasa lama, namun itu tidak menurunkan nilai baik dari film ini.

Adegan meledaknya bom dibuat serealistis mungkin hingga melibatkan gambar-gambar dari CCTV dan gaya handheld dan goyangan2 ala video amatis, sehingga membuat atmosfir kekacauan dari ledakan bom film ini benar-benar terasa. Adegan ledakan terasa mendadak dan tidak terduga, seperti yang memang terjadi sebenarnya. Tidak hanya itu adegan tembak-tembakan pada saat penampakan sang teroris di jalan perumahan padat penduduk juga terasa seru dan intens, gua kerap beberapa kali menahan nafas ketika tiap bom dijatuhkan pada adegan ini.

Gua tidak terlalu mempermasalahkan mengenai plot film ini, karena memang sebenarnya tidak ada masalah. Film ini seolah mencoba merekonstruksi kembali peristiwa bom Boston ini dari awal hingga akhir, dengan mengedepankan aspek-aspek perilaku setiap orang dalam menangani dan mengalami kejadian ini. Mulai dari polisi yang sibuk di lokasi kejadian, para dokter rumah sakit yang kewalahan dengan berdatangan para pasien, tim FBI yang sibuk memecahkan kasus, hingga adegan penangkapan para pelaku.

Satu mungkin hal yang gua kurang suka dari film ini. Yaitu akting Mark Wahlberg yang terlihat tidak sungguh-sungguh dalam film ini, dan di film-film drama lainnya. Entah kenapa gua gak merasakan simpati pada karakter Tommy Saunders ini, apalagi sikapnya yang tempramental membuat sulit bagi gua untuk bersimpati pada karakter ini.


Score : 7,5 / 10




regards,

January 11, 2017

Movie Review - La La Land

img:impawards
Salah satu alasan kenapa gua tertarik nonton La La Land adalah karena film ini bermandikan pujian dan awards di Golden Globe 2017. Itu saja sudah cukup membuat gua tanpa pikir panjang lagi langsung online booking film ini pada hari perdana penayangannya... di Indonesia. Dan benar saja pujian dan award yang diberikan pada film ini memang beralasan.

La La Land bercerita mengenai Mia, seorang pramuniaga yang sebenarnya bercita-cita ingin menjadi aktris, dan sudah berkali-kali mengikuti audisi casting namun selalu gagal. Suatu hari dirinya bertemu dengan Sebastian, seorang musisi Jazz yang karena ingin bertahan hidup, terpaksa harus mengorbankan idealismenya. Kisah cinta mereka pun dimulai. Kebahagiannya mereka terus berkembang sampai menuju titik menurun, ketika masing-masing mulai fokus dengan tujuan karirnya dan semakin jarangnya mereka bertemu.

Gua menyukai film ini karena entah mengapa, terdapat unsur magis yang membuat La La Land begitu spesial. Terlebih sang sutradara berhasil membawa unsur klasik pada film ini dengan baik walaupun setting pada cerita film ini ada di zaman sekarang. Plot cerita dibuat dengan bagus walaupun pada pertangahan plot cerita ini sedikit melempem, namun itu tidak menjadikan sebuah kerugian pada film ini. Musik dan lagu pada film ini begitu enak di dengar, apalagi lagu "City of Stars" yang dibawakan di film ini memenangkan penghargaan Golden Globe 2017 untuk kategori "Best Original Song - Motion Picture". Jangan ragukan akting Ryan Gosling dan Emma Stone pada film ini, mereka berdua menang Golden Globe juga lewat film ini.

Selain opening film yang begitu musikal dan meriah, alur cerita yang enak diikuti, akting pemainnya yang memukai, film ini juga memiliki ending mengejutkan yang luar biasa. Sebuah ending yang akan membawa penonton terus memikirkan film ini setelah keluar dari bioskop dan terus membekas. Sebuah ending yang begitu masuk akal, begitu mungkin terjadi, dan tidak mengada-ngada. Mungkin ini yang menjadi salah penyebab utama mengapa film ini memenangkan penghargaan film terbaik untuk ketagori Musikal di Golden Globe 2017.

Sebagai penyuka film drama-musikal atau penyuka film pada umumnya, sepertinya anda tidak boleh melewatkan film La La Land ini. Karena film ini memberikan sebuah tontonan yang menyenangkan serta dapat membekas di hati. Sayang aja kalo nggak sampai nonton.


Score : 8,5 / 10
Note: Film ini sepertinya hanya tayang di jaringan 21Cineplex.



regards,

January 10, 2017

Movie Review - The Unspoken

img:SFFWorld
Pernahkah kalian menonton film horror dimana bukannya perasaan takut yang dirasakan, melainkan perasaan kesal? Jika belum, mungkin bisa mencoba menonton film ini. Bercerita mengenai seorang gadis yang ditawari pekerjaan menjadi baby sitter untuk anak dari seorang ibu tunggal. Masalahnya ibu tunggal dan anaknya ini tinggal disebuah rumah yang terkenal dengan reputasinya sebagai rumah yang angker. Sehingga gangguan-gangguan gaib yang sering terjadi pada umunya mulai dialami oleh gadis ini, ataupun warga sekitar yang berada disekitar rumah ini.

Apa yang menyebalkan dari film ini? Begitu banyaknya adegan mengagetkan yang pada akhirnya bikin gua kesal. Bahkan sampai adegan mainan mobil yang tiba-tiba gerak aja sampe harus ditambahin sound mengaggetkan. Okelah film ini memang pengennya ngagetin, tapi masa iya disetiap kesempatan harus dipaksain ada adegan yang ngagetin, kan orang jadinya malah bete ya. Tidak hanya itu, jalannya cerita yang bodoh dengan karakter-karakter yang bodoh juga membuat film ini semakin sempurna mengecewakannya. Walaupun film ini memiliki ending yang twist, namun hal itu tidak menutup kemungkinan akan rentetan kebodohan pada film ini.

Tapi kalo emang kalian adalah para "Kaget Maniak" mungkin film ini bisa menjadi hiburan sempurna untuk anda, karena anda bisa kaget-kagetan tanpa perlu peduli akan kualitas ceritanya.


Score : 3.5 / 10
Note : Film ini hanya tayang di jaringan CGV & Cinemaxx



regards,

January 9, 2017

Movie Review - Arrival

img:youtube
Pada awal gua mengira ini adalah film science-fiction yang penuh dengan adegan action. Tapi ternyata saya salah, film ini adalah film drama yang tergolong berat. Berkisah tentang mendaratnya beberapa pesawat alien di permukaan bumi yang membuat seisi bumi bergejolak. Namun anehnya pesawat-pesawat alien tersebut tidak melakukan penyerangan atau apapun juga. Hingga akhirnya umat manusia mengirim orang-orang terbaiknya untuk memasuki pesawat alien tersebut untuk berinteraksi dengan para alien dengan tugas mengetahui apa tujuan para alien tersebut datang ke bumi.

Arrival bisa diakui sebagai salah satu film drama yang berat, karena mamadukan unsur fiksi ilmiah dan ilmu kebahasaan serta beberapa unsur lain yang ikut terlibat. Walaupun begitu cerita yang disajikan tergolong bagus walaupun dari segi alur agat lambat, yang membuat gua sering kali ganti-ganti posisi duduk karena merasakan kebosanan. Alur yang lambat ini bisa saja disebabkan karena cerita pada film ini berpusat pada satu karakter saja, sementara karakter yang lain hanya hadir sebagai pendukung saja. Bahkan Jeremy Renner pun, disini hadir sebagai pendukung dari Amy Adams sebagai si karakter utama. Jika saja, Jeremy Renner sendiri mempunyai konflik tersendiri pada film ini, mungkiiiin... film ini akan menjadi lebih menarik dan tidak sedatar ini.

Pesan yang ingin disampaikan oleh film ini cukup bagus sehingga pada akhirnya film ini bisa menjadi film bisa diterima oleh banyak pihak. Tapi entahlah, diriku merasa film ini akan masuk kategori "Film bagus tapi mudah dilupakan", karena begitu dramanya dan begitu datarnya film ini.

Secara keseluruhan Arrival bisa menjadi alternativ tontonan yang cukup berkualitas disaat stok film bagus lagi minim banget dibioskop-bioskop kesayangan anda. Cumaaaa, ya gitu deh, harus siap ama plotnya yang rada bikin bosen. Atau setidaknya bagi gua, hehehe...


Score : 7 / 10


regards,

January 6, 2017

Movie Review - The Great Wall

img:anoncraf

Sebagai film pembuka di awal tahun 2017, gua akui gua menyukai film The Great Wall ini. Berkisah tentang fungsi lain dari tembok besar China yang ternyata bukan hanya menangkal serangan tentara tentara, melainkan untuk menghadang serangan sesuatu yang jauh lebih ganas. Disamping itu masih ada juga beberapa sub plot yang dibuat untuk memperkaya cerita dari film ini, walaupun sebenarnya sub plotnya sendiri kurang begitu menarik untuk dijadikan fokus penonton.

Yang gua suka dari film ini adalah betapa kolosalnya dan betapa detilnya film ini dibuat. Kolosalnya bisa dilihat dari banyaknya talent yang masuk dalam frame saat adegan perang terjadi. Agak tidak mengherankan sih, karena hampir sebagian besar film kolosal China yang dibuat oleh sineas China menggunakan begitu banyak figuran untuk benar-benar menghidupkan kesan megah dan wah. Sementara untuk detailnya, gua cukup kagum dengan departermen artistik yang sanggup memberikan detail yang baik pada setting film ini. Selain itu, adegan perang dan action dalam film ini juga dibuat dengan agak brutal, sehingga bagi yang menonton mungkin akan bergidik ngeri. Untungnya gua suka dengan adegan-adegan seperti itu, karena jadi terkesan lebih nyata.

Ada beberapa adegan dari film ini, mengingatkan gua akan adegan serangan zombie yang terdapat pada film World War Z. Entah emang adegan serang zombie yang mencoba melewati dinding pertahanan terlihat begitu masiv, wah dan masuk akal, sehingga beberapa film termasuk film ini menirukan adegan tersebut atau entahlah. Untuk Matt Damon sendiri gua cukup kaget melihat dia mulai banyak main dalam film-film action macam ini, mengingat bahwa dulu dia pernah berujar lebih suka main dalam film-film yang bukan model ini, lebih kepada film serius.

Secara keseluruhan film ini sangat seru untuk disaksikan. Apalagi sinematografi pada film ini bisa gua akui cukup keren. Dan untuk porsi adegan perangnya juga sangat seru untuk disaksikan, karena dibuat dengan intense dan agak brutal. Dan sebagai film pembuka di tahun 2017 ini, gua suka. Hehehe...


Score : 7.5 / 10




regards,