March 24, 2017

Movie Review - The Devil's Candy

img:impawards

Boleh dibilang udah cukup lama gua nggak mengalami pengalaman menonton film horor yang sanggup membuat gua merasa ngeri saat menontonnya. Ngeri disini bukan karena adegannya yang sadis atau penampakan setannya yang menyeramkan. Tetapi ngeri karena film ini secara keseluruhan sanggup membuat penonton merasa ngeri. The Devil's Candy hadir sebagai sebuah film yang sanggup membuat film The Conjuring tampak kekanak-kanakan.

Berkisah seorang pelukis bernama Jesse yang membawa keluarganya pindah ke rumah baru. Walaupun sebelum memutuskan untuk membeli rumah tersebut, agen penjualnya telah mengatakan sebelumnya bahwa telah terjadi kasus kematian tidak wajar di rumah ini, namun Jesse dan istrinya tidak merasa takut akan hal itu. Kepindahan mereka ke rumah tersebut ternyata menjadi awal dari berbagai kejadian-kejadian mengerikan yang berujung pada sebuah pengungkapan fenomena yang cukup mengejutkan.

Sejak awal adegan film ini dimulai, atmosfer ngeri dan kesan seram langsung secara cepat menyeruak keluar. Membuat anda akan duduk diam di kursi dengan perasaan yang tidak nyaman dan rasa takut.  Lalu secara perlahan-lahan mental anda juga akan ditekan sampai pada akhirnya anda harus mengakui bahwa film ini berhasil tampil menyeramkan tanpa perlu ada adegan brutal dan penampakan hantu. Ucapan terima kasih dihanturkan kepada penata sound film ini yang berhasil menyulap unsur musik dan alat musik metal menjadi peningkat atmosfer seram. Klimaks pada film ini juga hadir dengan begitu menegangkan, intens, mengerikan dan sanggup membuat bulu kudu berdiri, yakin deh beberapa dari antara kalian yang nonton pasti akan meringis karena ikut merasakan ketakutan yang dialami para tokohnya.

Plot pada film ini sebenarnya cukup sederhana, namun sang sutradara berhasil membawa plot pada film ini seimbang dengan pengembangan dari tiap tokoh pada film ini serta beriringan dengan nuansa seram yang tidak pernah lepas dari tiap adegan yang ada. Serius deh, gua benar-benar mengagumi bagaimana film ini bisa berhasil dibuat dengan begitu seram dan gelap.

Hampir semua pemain pada film ini sepertinya bisa memerankan karakter mereka dengan baik dan berkembang. Palingan cuma karakter Astrid sang istri saja yang tidak terlalu dieksplorasi pada film ini, namun bukan berarti kehadiran dia hanya sebagai tempelan saja, karena pada dasarnya tokoh Astrid masih berfungsi sebagaimana seharusnya.

Secara keseluruhan The Devil's Candy sudah pasti menjadi salah satu film Favorit gua tahun ini. Film ini juga menjadi salah satu film yang berhasil membuat gua ingin cepat-cepat memiliki koleksi Bluray-nya karena begitu kerennya film ini. Film ini tanpa diragukan lagi menjadi salah satu film terseram tahun ini. Jadi buat kalian yang emang demen ama film horor, pokoknya jangan sampe nggak nonton film ini, karena benar-benar seperti sebuah hadiah indah untuk para pecinta film horror dan thriller.


Score : 8,5 / 10
Note : Film ini hanya tayang di Jaringan CGV/Blitz dan Cinemaxx



regards,

March 19, 2017

Movie Review - Beauty and The Beast

img:google
Apa yang orang harapkan dari sebuah remake film? Sesuatu yang baru? Atau hanya ingin menyaksikan cerita lama yang difilmkan kembali. Apalagi dari salah satu cerita paling terkenal yang pernah ada. Pastinya semua orang, khususnya penikmat film, ingin sesuatu yang bisa membuat film ini pantas hadir sebagai sebuah film remake yang memukau. Dan Beauty and The Beast sepertinya cukup berhasil menghidupkan kembali kisah klasik yang terkenal ini.

Alkisah tersebutlah seorang gadis cantik bernama Hermione Granger... maksudnya Belle. Diperankan oleh Emma Watson. Belle hidup sederhana, bersahaja namun tidak akrab dengan para penduduk desanya. Pemikiran Belle yang maju kedepan dan kesukaannya membaca buku membuat masyarakat didesanya enggan untuk menerima gadis ini. Pada suatu hari, Belle mendapati ayahnya ditawan disebuah kastil tua karena memetik sekuntum mawar di lingkungan kastil tersebut. Belle pun menghampir kastil tersebut untuk menjemput ayahnya, dan disinilah Belle pertama kali bertemu dengan The Beast, yang diperankan oleh Dan Stevens. Untuk membebaskan sang ayah, Belle melakukan pertukaran dimana sang ayah dibebaskan dan Belle tinggal sebagai tawanan. Dan dari sinilah cerita mengenai Beauty and The Beast dimulai.

Tidak mudah untuk menghidupkan kembali sebuah kisah terkenal yang sudah pernah difilmkan sebelumnya. Orang-orang pasti akan mengharapkan sesuatu yang lebih dari versi terbarunya, dan sepertinya Beauty and The Beast versi 2017 ini bermain aman. Lupakan mengenai issue tentang karakter gay pada film ini, karena nyatanya sifat gay pada karakter tersebut hanyalah tempelan dan tidak ada kaitannya dengan kelangsungan cerita film ini.

Untuk setting, okelah, film ini berhasil memberikan setting yang memadai dan cukup megah untuk film ini, walaupun jika dilihat lebih jeli setting pada film ini tidak semegah yang seharusnya. Detil pada film ini aman-aman saja. Mungkin sang sutradara memang hanya ingin fokus pada cerita pada film ini. Namun sayangnya ceritanya pun hampir semua orang sudah mengetahui, mengingat film ini dibuat sesuai dengan setting waktu pada cerita ini. Tidak seperti film Galih & Ratna yang berhasil mengambil resiko membawa kisah yang sama ke zaman modern. Film ini tetap setia dengan pakem-pakem yang ada, sehingga penonton sepertinya memang cuma ingin diajak bernostalgia saja. Permainan aman juga dilakukan pada sinematografi film ini, dimana lagi-lagi film ini bermain aman dengan mengambil gambar menggunakan sinematografi yang biasa saja. Tapi biarlah, toh film ini juga fokus pada nostalgia bukan ingin tampil dengan atmosfer baru. Nggak ada salahnya juga sih.

Akting Emma Watson pada film ini juga aman-aman saja, walaupun mungkin sebenarnya gua memang hanya fokus menganggumi si Emma yang tampak cantik di film ini, dan cukup menyadari pula bahwa karakter Belle ini agak mirip dengan karakter Emma Watson aslinya. Disisi lain gua juga merasa sepertinya Emma Watson kurang cocok untuk memerankan karakter ini.

Yang cukup gua kaget adalah sang the Beast sendiri. Enggak tau ya, di 2017 ini, ketika visual dan special effect sudah sebegitu maju, gua masih menemukan rasa-rasa "komputer" pada gerakan karakter The Beast ini. Cukup disayangkan saja sih menurut gua, seandainya karakter The Beast ini bisa lebih nyata lagi, pasti akan lebih

Secara keseluruhan, film ini masih sangat layak untuk dinikmati. Apalagi untuk anda yang ingin kembali menikmati sebuah kisah cinta yang tulus dan murni, serta menikmati kembali kisah dongeng yang dulu pernah populer. Ditambah dengan lagu-lagu yang enak didengar, film ini bisa menjadi sebuah pilihan tontonan yang bisa dinikmati ama pacar, temen atau ama keluarga. Film ini bagus kok, walaupun jauh dari Luar Biasa.


Score : 6.5  / 10


regards,

March 14, 2017

Movie Review - Galih & Ratna

img:filmgalihdanratna.com
Bisa dibilang udah cukup lama gua nggak pernah lagi menyaksikan film Indonesia dan ingin buru-buru pulang untuk menulis reviewnya, karena filmnya bagus. Dan hal ini terjadi kembali setelah gua menonton film Galih & Ratna. Sebuah remake dari film Indonesia yang pernah populer di zaman dulu.

Film ini berkisah tentang Ratna, seorang siswi SMA yang pindah ke Bogor untuk tinggal bersama tantenya. Di sekolah barunya, Ratna bertemu dengan siswa terpintar di sekolah itu yang bernama Galih. Pertemuan pertama mereka yang berakhir manis, berkembang menjadi sebuah kisah cinta yang indah. Galih dan Ratna berpacaran semasa SMA. Namun hubungan cinta mereka tidak selamanya mulus, pada akhirnya ada hal atau pihak yang membuat hubungan cinta mereka dilanda problema. Dan pada akhirnya tuntutan zaman membawa mereka pada kesimpulan yang seharusnya.

Apa yang membuat gua sangat menyukai film ini. Pertama adalah karena film ini digarap dengan profesional. Cita rasa film Crazy Little Thing Called Loved dari Thailand itu sedikit terasa pada film ini. Perasaan senang, geli, haru, sedih bercampur aduk saat menonton film ini. Hebatnya lagi, sang sutradara cukup berhasil memadukan unsur essensial yang jadul pada film ini ke dunia modern. Dimana penggunaan kaset Mixtape yang biasanya akan sulit jika diterapkan di film era zaman sekarang, ternyata berhasil dilestarikan dengan cara yang juga terbilang cerdas.

Hal lain yang gua suka adalah penggarapan teknis film ini. Film ini digarap dengan serius dan berkelas. Keliatan dari penggunaan jenis kamera, tata artistik serta pecahayaan dikerjakan dengan baik, sehingga gambar yang dihasilkan indah dan cerah. Mungkin kekurangan dari film ini adalah minimnya pengambilan gambar model bird's eye, apalagi setting film ini dilakukan di Bogor yang pastinya bisa memberikan sajian gambar yang indah.

Kedua pemerang utama berakting dengan baik, walaupun bagi gua akting Sheryl Sheinafia terlihat lebih halus daripada Refal Hady. Namun chemistry diantara keduanya berhasil terjalin, ada adegan-adegan yang menurut gua sulit, namun mereka berhasil memainkannya dengan baik. Seperti ketika Galih meminta Ratna bernyanyi dengan menggunakan ukulele, bagaimana reaksi Ratna yang salting dan malu-malu berhasil ditunjukan secara natural. Karakter lainnya, walaupun sebenarnya tidak memiliki kaitan langsung dengan para tokoh utama, dan bahkan seolah berdiri sendiri, namun tetap bisa memberikan hiburan buat penonton, sehingga anda bisa dibuat ketawa-ketawa sendiri sepanjang film.

Secara keseluruhan Galih & Ratna telah berhasil menjadi salah satu dari beberapa film Indonesia berkelas dengan cerita yang berkualitas. Walaupun film ini merupakan remake, namun membuatnya untuk bisa cocok dengan zaman sekarang tanpa harus menghilangkan unsur-unsur esensial dalam sebuah film, merupakan sebuah keberhasilan dari tujuan dibuatnya sebuah film remake. Dan pastinya Galih & Ratna akan membawa anda keluar dari bioskop dengan senyuman dan sebuah pemikiran yang baru.

 
Score : 8,5 / 10



regards,

March 10, 2017

Movie Review – Kong: Skull Island


img:impawards
Ini adalah salah satu film yang gua tunggu kehadirannya di bioskop. Dan akhirnya gua bisa menyaksikan film ini di bioskop tanah air. Lalu bagaimana film ini beraksi?

Berkisah mengenai perjalanan sekelompok ilmuwan yang ditemani oleh pasukan militer ke sebuah pulau yang belum pernah dikunjungi oleh manusia dari dunia luar. Pulau ini begitu sulit diakses lantaran di sekeliling pulang ini tertutup oleh badai abadi, sehingga hampir tidak banyak orang yang mau mendekati pulau ini. Namun berbekal bantuan helikopter militer serta keahlian mengemudikan helikopter, mereka akhirnya berhasil masuk ke dalam pulau tersebut. Dan akhirnya, apa yang selama ini dikira manusia hanya fantasi belaka, ternyata adalah sebuah kenyataan yang mengerikan.

Film ini benar-benar membawa sosok King Kong ke elemen yang baru. Dimana sebelumnya monster gorilla ini hanya berukuran 5 – 10 meter, namun kali ini ukurannya bisa mencapai setinggi gedung. Dan ini merupakan sesuatu yang gua suka, karena artinya lebih banyak keseruan yang bisa gua dapat. Namun sayangnya ada beberapa hal yang membuat film ini agak berkurang nilai kerennya. Pertama, ada banyak tokoh pada film ini, namun sayangnya tidak semua tokoh mendapatkan porsi yang sama, sehingga beberapa tokoh hanya tampil sebagai tempelan saja. Tidak hanya itu plotnya yang kurang rapih, membuat ada beberapa bagian pada film ini tampak membosankan.

Selebihnya, yang bisa kalian dapatkan adalah paket keseruan dan kengerian yang membuat Anda merasakan sebuah petualangan di dunia yang belum pernah kita lihat sama sekali. Banyaknya monster raksasa yang juga tinggal ditempat yang sama membuat kita terus-menerus disuguhkan berbagai adegan menarik yang super seru. Oh ya, jangan lupakan adegan amukan Kong saat kumpulan helicopter tiba di Skull Island, yang brutal dan keren banget. Serta adegan Pamungkas saat duel final kong dengan musuh bebuyutannya Skullcrawler, dimana adegan itu begitu intens, brutal, seru serta dengan durasi yang pas.

Secara keseluruhan, Kong: Skull Island hadir sebagai sebuah tontonan yang sanggup memberikan Anda sebuah petualangan yang tidak biasa. Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang sudah pernah gua sebutkan diatas, film ini pastinya tidak boleh Anda lewatkan. Apalagi film ini merupakan pengantar sebelum film Godzilla VS Kong yang kemungkinan akan tayang pada tahun 2020.


Score : 7 / 10




regards,

March 7, 2017

Berapakah Umur Adik Saya?

Apakah ada yang bisa menjawab pertanyaan ini?

 Ayo, apa jawabannya?




regards,

February 15, 2017

The HOOQster Journal

This is my Journal...

Jumat | 8 April 2016 | 17.26 WIB : “Terjebak Di Bus”
Sore itu, pada hari Jumat yang gerah di Semanggi, Jakarta Selatan, saya terjebak diantara ribuan mobil-mobil yang ber-Mannequin Challange di Jalan Gatot Soebroto. Ini bukan karena ingin ikut trend yang sempat kekinian di tahun 2016 itu, bukan! Melainkan karena mobil-mobil itu, termasuk bus yang saya tumpangi, sedang terjebak macet.

Sejak pulang dari kantor setelah tumpukan pekerjaan yang begitu menyita waktu, membuat saya lupa bahwa waktu sudah memasuki pukul 17.00 WIB dan seluruh orang-orang kantor mulai bersiap-siap pulang. Tak ingin ketinggalan, saya pun ikut bersiap-siap untuk pulang. Saya mematikan laptop, merapihkan meja kerja, dan ikut pergi meninggalkan ruang kantor yang berangsur-angsur sepi. Lalu setelah menunggu cukup lama di pinggir jalan, saya manaiki bus yang akan membawa saya ke Bekasi. Menyadari bahwa saya akan terjebak macet untuk waktu yang lama, sesaat setelah masuk ke Tol Dalam Kota dan bus berjalan merayap.

img:private-collection

Berdiri di bus yang jalan merayap membuat saya dilanda rasa bosan. Mencoba untuk killing time, dengan buka-buka media sosial, namun sepertinya hal itu kurang berhasil. Udah mau muntah rasanya scrolling layar untuk melihat update-update terbaru di media sosial, hingga postingan-postingan hari kemaren saya lihat kembali karena sudah kehabisan update terbaru. Sampai pada akhirnya saya menghabiskan waktu melamun sambil mendengarkan musik, berharap ada hal yang bisa membuat saya tidak diliputi rasa bosan terjebak macet di bus seperti sekarang ini.

Sabtu | 14 Mei 2016 | 15.35 WIB : “Bersama tapi Tidak Seterusnya”
Saya berkumpul dengan teman-teman di salah satu rumah teman saya. Setelah dari senin sampai jumat berusaha menjadi manusia dengan etos kerja tinggi, maka hari sabtu adalah waktu bagi saya untuk bersosialisasi dengan teman-teman saya. Mencoba untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, maka sejak pagi saya dan teman-teman sudah berjanji untuk berkumpul di rumah salah satu teman saya untuk saling ngobrol dan seru-seruan.

Setibanya saya di rumah teman saya, tampaknya semua sudah berkumpul. Kami kemudian saling bercerita tentang hari-hari kami sebelumnya. Berbagai cerita seru di tempat kerja dan hal lainnya. Sampai pada saat masing-masing mulai kehabisan bahan obrolan dan secara perlahan mulai sibuk dengan ponsel masing-masing. Suasana cair dan keceriaan yang tadi saya rasakan secara perlahan sirna, digantikan kebisuan dan kesibukan di gadget masing-masing. Bersama tapi tidak seterusnya, karena rasa bosan dan mati gaya memaksa kami untuk membuka ponsel dan mencari kesibukan lain. Sayang sekali.

Senin | 27 Juni 2016 | 19.40 WIB : “Mati Lampu yang Membunuh”
Senin malam. Saya sendirian di dalam kamar. Menikmati makan malam sambil menyaksikan salah satu film favorit saya yang sedang diputar di salah satu stasiun TV, “Ada Apa Dengan Cinta?”. Rasanya sangat nikmat sekali menikmati istirahat pulang kerja sambil ditemani oleh makan malam dan film kesukaan yang dulu pernah sukses di masa saya SMP. Sambil duduk di sofa, dan menyantap makan malam sesendok demi sesendok, saya menyaksikan Rangga yang menatap sinis Cinta ketika hendak diwawancara di perpustakaan sekolah dan kemudian… JLEB! Mati lampu. Saya terdiam untuk mulai menerima kenyataan bahwa istirahat malam saya terganggu dengan mati lampu. Dan yang lebih menyebalkannya lagi, Ada Apa dengan Cinta-nya belum selesai. Padahal lagi seru-serunya. Lingkungan di tempat tinggal saya memang cukup sering mati lampu. Entah karena gangguan listrik atau apa, yang pasti ini sangat menyebalkan. Saya melanjutkan makan malam saya dengan muka cemberut. Dalam kegelapan... yang membunuh kebahagiaan.

Selasa | 19 Juli 2016 | 18.05 WIB : “Menunggu Commuter Line yang Membosankan”
Memang tidak ada transportasi dalam kota yang lebih cepat dan lebih efektif dibanding naik Commuter Line. Dengan menaiki moda transportasi ini, kita akan terbebas dari kemacetan jalan di Jakarta yang terkadang bikin emosi. Namun ada kalanya masalah persinyalan atau pantograf suka terjadi dan membuat perjalanan kereta terganggu. Seperti yang saya rasakan sekarang ini. Berdiri lebih dari 90 menit menunggu kereta yang terhambat karena adanya gangguan persinyalan. Jikalau 90 menit ini saya habiskan di bioskop, pastinya saya sudah selesai menyaksikan satu buah film utuh. Namun yang sekarang saya alami adalah berdiri bersama ratusan penumpang lain menunggu kereta tercinta yang tidak kunjung datang, dengan wajah lelah dan bosan. Andai saja saya bisa menggunakan 90 menit waktu menunggu saya dengan hiburan yang menyenangkan, pastinya akan lebih baik dan tidak membosankan.

Menunggu Memang Membosankan
Jika dikira-kira, apa sih kegiatan yang paling membosankan? Sebenarnya banyak, namun salah satu yang paling populer diantaranya adalah kegiatan menunggu. Seperti kejaidan-kejadian yang saya alami diatas. Menunggu Commuter Line yang tidak kunjung datang. Atau menunggu macet di tengah jalanan kota yang super melelahkan. Atau bisa juga menunggu makanan datang saat kita kelaparan, dan masih banyak lagi.

Saya sempat meluangkan waktu untuk bertanya kepada teman-teman saya hal apa yang paling membosankan dilakukan. Masing-masing dari mereka memberikan jawaban yang menarik, seperti yang saya rangkum dalam video di bawah ini.


Dari testimoni teman-teman saya tersebut, bisa kita lihat bahwa ada banyak hal yang bisa memunculkan rasa bosan. Seperti nungguin dipanggil dokter, nungguin orang, nungguin makanan dateng, nunggu kendaraan dan masih banyak lagi. Untuk mengisi waktu menunggu mereka, biasanya mereka bermain hape atau melakukan kegiatan lain. Namun apakah itu sudah cukup? Atau sebenarnya kita membutuhkan sesuatu yang bisa membuat waktu menunggu menjadi menyenangkan? Untuk itulah, saya akhirnya berkenalan dengan HOOQ. Penyelamat hiburan saya.


Rabu | 7 Desember 2016 | 13.11 WIB : “Berkenalan dengan HOOQ”
Bermula dari obrolan dengan teman, dimana dia memiliki hobi nonton film dan berbagai serial menarik. Namun yang menjadi bagian serunya adalah; dia bisa menikmati setiap tontonan favoritnya dimana saja dan kapan saja. Seolah tidak ada yang membatasi dia untuk menikmati setiap tayangan favorit yang dia inginkan. Dan semua itu bisa terjadi berkat HOOQ Time. Anytime!

Mendengar penuturannya membuat saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut apa itu HOOQ. Apalagi saya juga merupakan pecinta film yang selalu menghabiskan waktu luang saya untuk menikmati berbagai film baru dan seru. Karena pada dasarnya selain memang suka nonton film, saya juga sering memberikan review dari film-film yang sudah saya tonton. Tak heran jika banyak teman saya yang selalu menanyakan review saya dulu sebelum menonton sebuah film. Nah, dengan adanya HOOQ ini, hobi nonton saya kini bisa saya nikmati bahwa disaat-saat paling membosankan sekalipun. Karena HOOQ membuat saya bisa menonton berbagai film dan acara menarik Anytime! Anywhere! Cool, isn’t it?

 
HOOQ sendiri mulai berdiri pada tahun 2005, dengan Krishnan Rajagopalan selaku Founder dan CCO dan Peter Bithos sebagai CEO. Perusahaan ini merupakan hasil joint-venture antara Sony Pictures Entertaiment, Warner Bros dan Singtel. Dengan misi membawa lebih dari 35.000 jam tayangan berkualitas dari lokal, regional bahkan Hollywood, HOOQ hadir sebagai salah satu inovasi hiburan yang bisa dinikmati kapan saja dan di mana saja. Sesuai dengan taglinenya: "HOOQ Time. Anytime". HOOQ mencoba mengisi setiap waktu-waktu membosankan, saat-saat luang, momen-momen senggang ditempat manapun dan di saat kapanpun dan dengan gadget apapun. Entah laptop, tablet, bahkan smartphone bisa digunakan untuk menikmati berbagai tayangan berkualitas HOOQ.

Kesuksesan HOOQ telah membuat aplikasi melebarkan wilayah operasinya di lima negara, diantaranya adalah Indonesia, Singapore, Filipina, Thailand dan India. Tidak heran jika Global Mobile Awards 2016 (GLOMO) menobatkan HOOQ sebagai Best Mobile App untuk kategori media, film, tv dan video.

Untuk kamu yang ingin mengetahui lebih jelas mengenai apa itu HOOQ time. Anytime, kamu bisa menyaksikan dulu video menarik yang dibintangi oleh Nicholas Saputra di bawah ini.


Bagaimana Cara Menikmati HOOQ?
GAMPANG! Adalah satu kata yang bisa saya ucapkan ketika berkenalan dengan HOOQ. Kenapa saya bilang gampang, karena saya bisa dengan mudah menggunakan HOOQ! Seperti saya yang men-download HOOQ di tablet android saya, supaya saya bisa menyaksikan film di layar yang lebih lebar. Langkah-langkah mudah menikmati HOOQ Time Anytime adalah sebagai berikut:
  1. Buka Playstore di ponsel ataupun tablet android kamu.
  2. Lalu masukan keyword : HOOQ pada kolom pencarian.
  3. Dalam sekejap icon aplikasi HOOQ akan muncul untuk kamu klik.
  4. Klik icon HOOQ dan klik “Install”, lalu biarkan sistem mendownload dan menginstal HOOQ
  5. Setelah selesai, kamu buka aplikasi HOOQ dan lakukan pedaftaran.
  6. Pendaftaran bisa menggunakan email atau pun nomor telepon.
  7. Setelah itu, bukan inbox email kamu, dan lakukan verifikasi akun kamu melalui email yang dikirim ke inbox email kamu.
  8. Setelah selesai dan semuanya sukses, kamu sudah bisa memasuki pintu gerbang dunia hiburan tanpa batas.
Simple banget kan!

Pilihan Paket Berlangganan HOOQ yang Beragam

Gambar saya yang ini, secara tidak bertanggung jawab dicopy-paste disini : jagoaninternet-com/hooq/

Untuk menikmati setiap tayangan hiburan di HOOQ, pastinya kamu harus berlangganan paket, dan disini HOOQ memberikan pilihan paket berlangganan yang beragam. Berbagai pilihan paket berlangganan HOOQ adalah sebagai berikut:
  • 7 Days : Unlimited movies and TV Shows yang bisa kamu nikmati selama 7 hari berturut-turut dengan harga yang sangat murah, yaitu IDR 18.700,-
  • 30 Days : Jika kamu ingin menikmati waktu yang lebih lama, kamu bisa memilih paket 30 Days atau sebulan. Sehingga kamu bisa memiliki waktu lebih banyak dan berjelajah tayangan-tayangan seru di HOOQ dengan hanya perlu merogoh kocek seharga IDR 49.500,-
  • 90 Days : Untuk yang ingin mulai berlangganan HOOQ, kamu bisa memilih paket 3 bulan dengan harga yang lebih murah, yaitu hanya dengan IDR 124.000,-
  • 180 Days : Jika ingin menikmati HOOQ dalam jangka waktu yang lebih lama, kamu bisa memilih paket 180 hari dengan biaya hanya IDR 244.000,- saja.
  • 360 Days : Ini adalah paket maksimal dengan biaya yang jika dibagi rata setiap bulan jauh lebih murah. Untuk layanan unlimited movies and TV Shows selama 1 tahun penuh, kamu hanya perlu mengeluarkan uang sebesar IDR 440.000. Kurang dari setengah juta kamu sudah menikmati puluhan ribu koleksi film selama 1 tahun sepuasnya!
      Salah satu promo yang bisa kamu manfaatkan untuk menikmati HOOQ dengan mudah adalah melalui Telkomsel. Dengan layanan Video MAX, kamu bisa menikmati ribuan judul film dan serial yang bakalan bikin hari-hari lebih seru dari biasanya. Mau tau caranya gimana? Berikut step-stepnya:
      1. Pertama-tama kamu harus mengaktifkan Paket streaming film VideoMax Telkomsel melalui channel UMB atau MyTelkomsel.
      2. Lalu tunggu saja sampai kamu mendapatkan sms notifikasi yang berisi link untuk bisa akses layanan nonton film online HOOQ
      3. Kalo sudah terkirim sms, kamu bukan dan kamu klik link pada sms notifikasi tersebut.
      4. Lalu kamu mulai menginstall aplikasi hooq yang bisa kamu download di Google Play Android ataupun iOs App Store. Untuk step yang ini khusus untuk kamu yang belum mendownload aplikasi HOOQ di gadget kamu. Kalo kamu sudah download, ketika kamu klik link pada sms tersebut kamu akan dibawa masuk ke aplikasi Steaming HOOQ.
      5. Jika kamu sudah berhasil install dan membuka aplikasi HOOQ, kamu akan dihadapkan pada menu Sign Up. Cara untuk sign up atau daftar di HOOQ itu gampang banget. Kamu bisa menggunakan nomor handphone kamu sebagai username atau identifier.
      6. Setelah selesai, kamu akan dibawa ke halaman berikutnya yang berisi OTP. KAmu cukup mengisi password OTP yang dikirimkan melalui sms kamu. Masukan password OTP tersebut pada kotak yang telah disediakan. Kamu bisa mengklik tombol "I did not receive my OTP" jika kamu belum mendapatkan password OTP kamu atau password yang sudah dikirimkan telah expired.
      7. Setelah sukses memasukkan password OTP, kamu akan langsung dibawa masuk ke halaman utama HOOQ. Kamu dapat mengisi email untuk memaksimalkan pedaftaran kamu, dan juga untuk menerima newsletter mengenai info-info terbaru soal HOOQ
      8. Sampai disini, kamu sudah bisa mulai menikmati ribuan judul film yang bisa kamu nikmati kapan saja, dimana saja, sepuasnya!

        Kelebihan-Kelebihan HOOQ
        Jika melihat dari penjelasan diatas, saya jadi bisa menyebutkan apa-apa saja kelebihan yang dimiliki HOOQ sebagai aplikasi yang bisa menolong semua pihak dari wabah kebosanan. Dan kelebihan-kelebihannya adalah sebagai berikut:


        Oke, sekarang setelah saya berkenal dan berlangganan HOOQ. Maka kini hari-hari saya pun berubah menjadi lebih menyenangkan. Seperti kelanjutan jurnal saya dibawah ini.

        * * *
        Senin | 19 Desember 2016 | 17.07 WIB : “Bahagia Terjebak di Bus”
        Sore itu jalanan di Jakarta masih sama macetnya. Karena memang seperti tidak ada perubahan yang berarti selama bertahun-tahun saya menggunakan angkutan umum. Namun justru perubahan yang terjadi adalah pada diri saya. Ketika waktu pulang kantor tiba, seperti biasa saya bersiap-siap untuk meninggalkan kantor dan pulang. Setelah mematikan komputer, saya bergerak bersama rekan-rekan kerja untuk meninggalkan kantor tercinta. 

        Setelah sekitar 15 menit berdiri di pinggir Jalan Jendral Sudirman yang padat itu, akhirnya saya mendapatkan bus saya; Patas AC. 52 Jurusan Tanah Abang - Bekasi Timur. Ketika saya masuk ke dalam, sudah saya duga bahwa seluruh kursi sudah terisi dan sudah ada beberapa orang juga yang berdiri. Saya pun berjalan menuju tengah bus untuk berdiri.


        Perjalanan pulang tetap ditemani oleh macet. Namun kali ini saya tidak memedulikannya. Karena saya bisa menikmati film Hancock-nya Will Smith yang menarik saya dari kemacetan Jalan Gatot Soebroto ke dunia penuh aksi Hancock yang seru. Lalu ketika film tersebut selesai, saya menyadari bahwa bus yang saya tumpangi sudah keluar dari Pintu Tol Bekasi Timur. Tanpa sadar saya sudah menghabiskan waktu berdiri lebih dari 90 menit, tanpa sedikitpun merasa bosan. Ini semua berkat HOOQ tercinta, dan tentu saja, Hancock, hehehe...

        Sabtu | 31 Desember 2016 | 21.02 WIB : “Bersama dan Seterusnya”
        Menjelang tahun baru 2017, seperti biasa saya berkumpul bersama teman-teman saya untuk merayakan pergantian tahun baru. Kami berkumpul di salah satu rumah teman saya untuk bakar-bakar jagung, sosis dengan berbagai makanan ringan lainnya. Setelah itu mengobrol bersama di ruang tamu sambil menikmati hidangan yang telah tersaji.


        Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam kami memutuskan untuk menonton film sambil menunggu waktu tahun baru tiba. Film yang kami pilih, adalah film bertema ringan yang bisa memberikan tawa dan keceriaan, dan oleh karena itu pilihan jatuh pada film The Proposal-nya Sandra Bullock dan Ryan Renolds. Langsung saja saya menyalakan HOOQ saya dan mencari film tersebut untuk ditonton bersama-sama. Kami menyaksikan film tersebut sambil sesekali tertawa akan berbagai kelucuan dan canda yang terjadi di film tersebut. Acara kumpul bersama kali ini benar-benar terasa kebersamaannya dan terasa sampai seterusnya.

        Rabu | 11 Januari 2017 | 20.30 WIB : “Mati Lampu yang Menghidupkan”
        Rabu malam saya isi dengan menyaksikan maraton siaran ulang film The Mentalist di salah satu channel tv kabel. Karena saya juga kebetulan menyukai serial ini, jadi begitu ada tayangan ulangnya saya tetap saja menyaksikannya dengan antusias. Sambil menikmati makan malam, saya menikmati aksi para tokoh dalam setiap misi mereka sampai tiba-tiba… jleb! Mati lampu lagi. Menyebalkan rasanya ketika kamu sedang berada di tengah keseruan menyaksikan acara kesayangan dan padamnya listrik merampas segalanya. Seolah kebahagiaan kamu direnggut begitu saja.

        Untung saja saya masih bisa memanfaatkan HOOQ di tablet saya untuk melanjutkan kembali serial The Mentalist yang tertunda gara-gara mati lampu ini. Kamar boleh mati dalam kegelapan, namun HOOQ tetap membuat saya hidup dengan streaming tayangannya yang tanpa henti dan kendala. Keren!

        Jumat | 3 Februari 2017 | 19.07 WIB : “Menunggu Commuter Line yang Sulit Menahan Tawa”
        Tidak ada yang bisa mengalahkan macetnya jalan-jalan di Jakarta, sibuknya transportasi umum di Jakarta dan membeludaknya para penumpang angkutan umum pada hari jumat di jam pulang kantor. Mengingat dua hari berikutnya adalah akhir pekan, sudah pasti banyak para pekerja kantoran yang sudah siap dengan tujuannya masing-masing. Ada yang pergi berkumpul dengan teman-temannya, ada yang langsung pulang ke rumah masing-masing dan masih banyak lagi.

        Salah satu dari sekian banyak orang yang memutuskan untuk langsung pulang adalah saya, dimana pada pukul 7 malam ini, saya sudah berdiri ganteng di peron Stasiun Manggarai untuk menunggu Commuter Line menuju Bekasi. Menurut pengumuman dari stasiun, kereta ke Bekasi saat ini posisinya masih berada di stasiun Mangga Besar menuju ke Stasiun Kota terlebih dahulu sebelum kembali menuju Bekasi. Saya berdiri bersama ratusan calon penumpang lain yang menunggu di peron jalur 4.


        Sambil menunggu, saya menikmati film klasik Indonesia berjudul “Benyamin Tukang Ngibul”. Film komedi yang dimainkan oleh Almarhum Benyamin S ini benar-benar membuat waktu menunggu Commuter Line saya dipenuhi dengan tawa riang akibat tingkah lucu Benyamin yang tukang ngibul. Saya yang sesekali tertawa ketika menonton film via HOOQ sempat menarik perhatian dari orang-orang disekitar saya, namun saya tidak mempedulikannya. Bahkan saya membiarkan mereka ikut menonton jika mereka menginginkannya.

        Tidak ada salahnya membagi kebahagiaan bersama orang-orang yang walaupun tidak kita kenal. Dan bersama HOOQ saya bisa berbagi kebahagiaan dengan tayangan lucu yang menghibur.

        Penutup
        Perkembangan zaman memang membawa cukup banyak perubahan pada diri kita. Mulai dari perubahan yang positif dan sampai ada pula perubahan yang kearah merugikan. Namun ketika saya ditanya apa contoh perkembangan teknologi yang membawa perubahan positif, maka HOOQ menjadi salah satu contoh nyata yang bisa saya sebutkan. HOOQ telah membuat setiap kebosanan saya sirna, dengan berbagai tayangan menariknya. Setiap waktu menunggu atau saat-saat membosankan jadi tidak lagi terasa memberatkan. HOOQ telah membawa perubahan pada diri saya dalam mengisi waktu menunggu yang membosankan. Membuat waktu menunggu tidak pernah lagi menjadi waktu yang saya benci. Membuat hobi menonton saya tetap terakomodasi kapanpun dimanapun. Ini semua karena HOOQ Time. Anytime.

        Get connected to HOOQ Social Media:
        Facebook | Twitter
        Join the Competition Here




        regards,

        February 10, 2017

        Movie Review - John Wick Chapter 2


        img:slashfilm.com
        Sebenarnya gua nggak menyangka bahwa John Wick bakalan ada sequelnya. Mengingat sebenarnya film ini tergolong biasa saja, walaupun ada sedikit nilai keunikan pada film ini. Namun apa daya, ternyata sang Sutradara Chad Stahelski hadir dengan kelanjutan dari si Mantan Pembunuh Bayaran ini. Dengan cerita yang lebih lebar dari sebelumnya.

        Bercerita mengenai John Wick ingin kembali melanjutkan hidup damainya setelah sempat terganggu pada film yang pertama. Namun nyatanya masalah lain menghampirinya dan memaksanya untuk kembali ke kehidupannya yang lama. Hanya saja dengan tujuan, setelah tugasnya sebagai pembunuh bayaran sudah berakhir, maka dirinya akan memburu orang yang memaksa dirinya untuk kembali ke kehidupan lamanya dan merampas kedamaiannya.

        Hal menarik yang membuat gua menyukai film ini adalah, keunikan kecil yang disajikan pada film pertama, dieksplorasi lebih luas pada film yang kedua ini. Dimana pada film ini dicoba lebih dijabarkan mengenai ekosistem dan sistem kerja dari komunitas para pembunuh. Salah satunya adalah terdapat hotel khusus para pembunuh bayaran, dimana pada wilayah hotel itu, tidak boleh ada aktivitas bisnis (bunuh-membunuh) yang terjadi, jika tidak mau dikelurkan dari komunitas. Eksplorasi sistem kerja komunitas pembunuh pembayaran yang sistematis inilah yang menjadi salah satu nilai keunikan dari film ini.

        Tidak hanya itu, nilai menarik lain dari film ini adalah adegan pertarungan dan tembak-tembakannya yang intens dan cukup brutal. Walaupun disatu sisi tampak tidak memungkinkan, namun disisi lain terdapat keseruan diberikan dari adegan-adegan tersebut. Mengingatkan kita akan betapa mustahilnya namun serunya adegan aksi pada film Wanted. Sementara adegan perkelahiannya yang tampak real secara perlahan membawa gua teringat akan film The Raid, namun disini adegan pertarungannya dibuat sedikit lebih realistis.

        Dan sepertinya sang sutradara secara jelas mengindikasikan bahwa film ini akan berlanjut ke seri ketiga. Alur cerita pada film ini dibuat seolah-olah bahwa segala belum berakhir, bahkan cenderung menjadi semakin buruk. Sebuah formula yang bagus, mengingat film keduanya sendiri bisa dibilang seru untuk ditonton.


        Score : 7,5 / 10
        Note : Film ini hanya tayang di Jaringan 21/XXI


        regards,

        January 30, 2017

        Movie Review - Resident Evil The Final Chapter

        img:evilcomeshome.com
        Seri terakhir dari Resident Evil ini berkisah mengenai perjalanan Alice (Milla Jovovic) yang harus kembali ke The Hive untuk menyelamatkan satu-satunya obat yang bisa menghapus wabah Zombie diseluruh muka bumi. Serta penjelasan mengenai asal muasal mengapa T-Virus bisa menjadi epidemi mematikan di seluruh dunia.

        Bagi gua seri terakhir ini bisa dibilang merupakan sebuah kekecewaan terakhir yang gua harap akan menjadi kekecewaan yang benar-benar terakhir. Film ini hanya fokus untuk membuat penonton terkaget-kaget tanpa memperhatikan kualitas plot film ini. Untung saja penjelasan soal asal muasal virus ini yang rupanya cukup twist bisa memberikan sedikit rasa segar, sebelum dirundung berbagai kebodohan berikutnya.



        Score : 4 / 10




        regards,

        January 23, 2017

        Movie Review - Istirahatlah Kata-Kata

        img:jurnalfootage.net
        Film ini menceritakan masa-masa pelarian Wiji Thukul pada masa-masa orde baru, karena menganut paham yang berlawanan dengan pemerintah. Yes, film ini hanya bercerita mengenai masa-masa pelarian dia saja. Udah itu aja, nggak ada yang lain.

        Jika gua telaah, sebenarnya film ini memiliki plot yang sangat dangkal dan singkat sekali. Mengenai masa-masa pelarian seorang aktivis pejuang demokrasi. Dan fokus utama dari film ini ya si Wiji Thukul itu sendiri. Dan sepanjang film yang dibahasa mengenai kehidupan si Wiji Thukul sebagai pelarian. Puisi-puisinya hanya berupa tempelan sebagai instrumen pengisi adegan-adegan tak bermakna yang dibuat hanya untuk manjang-manjangin durasi. Apalagi film ini begitu sepi dan cukup membosankan sehingga beresiko membuat penonton malah memilih melakukan akitivitas lain seperti ngobrol atau main hape. Padahal kalo baca sinopsis film ini, kesannya film ini akan sarat adegan-adegan menarik.

        Gua sebenarnya ingin menyukai film ini, jika saja film ini dibuat lebih dalam dan lebih padat. Namun yang terjadi film ini malah menjadi film yang dangkal yang sarat akan plot model "Sebab-Akibat", dan cuma fokus pada kehidupan si Wiji saja dan dilihat dari sisi pribadinya saja. Mungkin penonton yang tahu dengan baik latar belakang Wiji Thukul ini mungkin bisa menikmati film ini karena sudah memiliki fondasi yang baik. Sementara penonton awam yang sama sekali tidak tahu siapa Wiji Thukul ini, sepertinya akan berakhir pada kebutaan dan penyesalan akan 90 menit yang sia-sia.



        Score : 3.5 / 10



        regards,

        January 20, 2017

        Movie Review - XXX Return of Xander Cage

        img:collider.com
        Bercerita mengenai kembalinya Xander Cage menjadi agen khusus dengan misi menyelamatkan sebuah alat yang bisa menjatuhkan satelit-satelit di ruang angkasa ke bumi. Sepanjang film kita akan disuguhkan adegan-adegan action yang absurd, cewek-cewek berbikini, adegan-adegan kurang penting dan adegan action yang mudah dilupakan.

        Entah apa motivitasi film ini dibuat selain hanya untuk mendompleng popularitas Vin Diesel yang sedang naik berkat rentetan film Fast & Furious. Cerita pada film ini biasa aja, tidak ada yang menarik. Adegan actionya pun juga biasa aja, tidak ada yang menarik, bahkan beberapa terkesan konyol, twistnya-pun sudah bisa tertebak gara2 muka aktris yang memerankannya pun membuat penonton berpikir bahwa dia sebenarnya orang yang jahat.

        Secara keseluruhan film ini tergolong mengecewakan. Tidak heran film ini di tayangkan pada awal tahun, supaya tidak terlalu babak belur dilibas sama film-film bagus lainnya. Namun untuk seru-seruan, yaaaa film ini gak papa sih.



        Score : 4 / 10



        regards,
        Breaking News:
        Loading...